Senin, 09 Juli 2012

proposal PTK Kelas 3

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS





PENGGUNAAN METODE PENEMUAN TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA TENTANG MENGHITUNG LUAS PERSEGI PANJANG BAGI SISWA KELAS III SEMESTER II SD NEGERI KALIWEDI
KECAMATAN KEBASEN KABUPATEN BANYUMAS
TAHUN PELAJARAN 2010/2011














Oleh : Novi Priyanti






1.JUDUL
Penggunaan metode penemuan terbimbing untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang menghitung luas persegi panjang bagi siswa kelas III pada semester I SD Negeri Kaliwedi kecamatan Kebasen kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2010/2011.

II.BIDANG KAJIAN
Pembelajaran Matematika dan Metode Terbimbing.

III.PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Sebagian besar siswa sekolah dasar kurang dan bahkan tidak menyukai pelajaran Matematika. Mereka beranggapan bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang paling sulit dan memaksa mereka untuk berpikir, menghitung dan menghitung dengan berbagai rumus yang memusingkan. Peristiwa semacam ini juga dialami oleh siswa kelas V SD Negeri 4 Kalisalak. Hal ini terbukti pada setiap ada pelajaran Matematika di kelas V, mereka kurang antusias dalam menerima pelajaran. Kekurangantusiasan ini terasa wajar jika pembelajaran Matematika disajikan dalam kemasan yang kurang menarik. Hal ini tentu saja mengakibatkan siswa kurang memahami penjelasan guru. Apalagi sebagian besar siswa cenderung malu ataupun takut untuk bertanya kepada guru. Tidak mengherankan jika prestasi belajar matematika siswa tergolong rendah. Berdasarkan hasil belajar Matematika khususnya pokok bahasan menghitung luas persegi panjang yang dilakukan oleh guru kelas diketahui bahwa nilai rata – rata kelas adalah 53,90. Nilai tertinggi adalah 90 yang diperoleh oleh 1 anak, sementara nilai terendah adalah 20 yang diperoleh oleh 2 anak.
Pembelajaran yang selama ini dilaksanakan di SD Negeri 4 Kalisalak adalah metode ceramah. Guru menjelaskan materi pembelajaran, siswa mendengarkan. Setelah guru selesai menjelaskan, siswa disuruh mengerjakan soal evaluasi. Jadi dalam kegiatan belajar mengajar ini yang aktif sebagian besar adalah guru. Siswa hanya mendengarkan dan mengerjakan soal evaluasi. Kegiatan seperti ini berlangsung setiap pelajaran Matematika. Hal itu yang membuat siswa cepat merasa bosan, karena tidak ada variasi pembelajaran. Oleh karena itu penulis terdorong untuk menerapkan model pembelajaran yang sedikit berbeda dalam pembelajaran matematika. Penulis mencoba menerapkan metode penemuan terbimbing untuk meningkatkan prestasi belajar Matematika. Dalam metode pembelajaran ini kelompok dibentuk secara heterogen terdiri dari 5-6 anggota memiliki kemampuan tinggi dan rendah. Metode penemuan terbimbing memungkinkan para peserta didik menemukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya, karena metode penemuan terbimbing melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental untuk penemuan suatu konsep berdasarkan informasi-informasi yang deberikan guru. Metode penemuan terbimbing dimulai dengan mengajarkan beberapa pertanyaan dengan memberikan beberapa informasi secara singkat, diluruskan agar tidak tersesat. Berdasarkan bahan yang ada, siswa di dorong untuk berfikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum. Seberapa jauh upaya guru dalam membimbing siswa tergantung pada kemampuan siswa dan materi yang sedang dipelajari. Metode penemuan ini memberi kesempatan siswa bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan.
Setelah penelitian dilakukan diharapkan hasil belajar akan meningkat. Dengan adanya metode penemuan terbimbing di harapkan siswa dapat menyelidiki dan menemukan sendiri rumus luas persegi panjang. Metode ini dapat melatih peserta didik untuk memiliki kesadaran tentang kebutuhan belajarnya.
Dengan metode penemuan terbimbing ternyata siswa dapat menemukan sendiri rumus luas persegi panjang. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa.

IV.PERUMUSAN MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH
1.Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut di depan, maka rumusan masalah yang diajukan dalam proposal ini adalah:
a. “ Apakah Penggunaan metode penemuan terbimbing pada mata pelajaran Matematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III Sd Negeri Kaliwedi? ”
2.Pemecahan masalah

a.Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam proposal penelitian ini adalah:
Melalui metode penemuan terbimbing diduga dapat meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa kelas III SDN Kaliwedi.

V.TUJUAN PENELITIAN
1.Tujuan Umum
Tujuan peneliti yang diharapkan dari penelitian ini menjadikan masukan bagi guru dan siswa untuk meningkatkan hasil belajar di kelas.

2.Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini :
  1. “ Untuk mengetahui apakah melalui metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa kelas III SDN Kaliwedi ”

VI.MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
a. SDN Kaliwedi
Dengan hasil penelitian ini diharapkan SDN Kaliwedi dapat lebih meningkatkan hasil belajar matematika agar prestasi siswa lebih baik.
b. Guru
1. Sebagai bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di kelasnya.
2. Membantu dalam perbaikan pembelajaran
3. Mengaktifkan dalam mengembangkan pengetahuan ketrampilan
4. Membuat guru lebih percaya diri
c. Siswa
1. Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk memanfaatkan media dalam rangka meningkatkan prestasi belajarnya.
2. Mengikis anggapan bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit dan rumit

VII.KAJIAN PUSTAKA

A.Landasan Teori
1. Pengertian Peningkatan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 1198) peningkatan di artikan sebagai proses, cara, perbuatan peningkatan (usaha, kegiatan).
2. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dapat diartikan sebagai sesuatu yang diperoleh, Menurut Hamalik (dalam Ridwan202, 2008) mendefinisikan belajar adalah “ suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara – cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman. ”
Kemudian Menurut Slameto (1987: 2) belajar adalah “ Suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. ”
  1. Pengertian Matematika
James dan James (dalam Wahyudi, 2000) menyatakan Matematika ialah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep – konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri. Matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang bilangan, hubungan antar bilangan dengan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian mengenai bilangan.
  1. Pengertian metode mengajar
Metode merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar menyenangkan dan mendukung bagi kalancaran proses belajar dan tercapainya prestasi balajar anak yang memuaskan (Mulyadi Sumantri).
Menurut Winarno Surachman dan Ellyza Rossa mengatakan bahwa metode merupakan cara-cara yang tepat dan serasi yang digunakan guru untuk mencapai tujuan pembalajaran.
Mengajar menurt Bahasa Indonesia adalah menunjukan seseorang tentang sesuatu agar dia menjadi tahu (Hasan Alwi : 20). Sedangkan menurut T. Raka Joni (1984:3) merumuskan pengertian mengajar sebagai pencipta dan suatu sistem lingkungan yang mendukung terjadinya proses belajar.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode mengajar ialah cara yang teratur yang ditempuh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran.

  1. Metode Penemuan
Metode Penemuan adalah cara penyajian pelajaran yang memeberi kesempatan pada peserta didik yang menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru.
Metode Penemuan terbimbing adalah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencari informasi dengan atau tanpa bantuan guru (Strategi Belajar Mengajar,2001:142).
Metode penemuan terbimbing dimulai dengan mengajarkan beberapa pertanyaan dengan memberikan beberapa informasi secara singkat, diluruskan agar tidak tersesat. Berdasarkan bahan yang ada, siswa didorong untuk berfikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum. Seberapa jauh upaya guru dalam membimbing siswa tergantung pada kemampuan siswa dan materi yang dipelajari. Metode penemuan terbimbing ini memberi kesempatan pada siswa untuk bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan.
Alasan menggunakan metode penemuan terbimbing:
  1. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.
  2. Belajar tidak hanya diperoleh di sekolah, tetapi juga dari lingkingan.
  3. Melatih peserta didik untuk melatuh kesadaran sendiri kebutuhan belajarnya.
  4. Penanaman kebiasaan untuk belajar berlangsung seumur hidup.


VIII.RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
A. Rencana Penelitian
1.Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Kaliwedi, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas dengan jumlah siswa 32 orang. Pertimbangan penulis mengambil subyek penelitian tersebut dimana siswa kelas III telah mampu dan memiliki kemandirian.
2.Tempat Penelitian
Ruang kelas III SDN Kaliwedi
3.Waktu Penelitian
Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan menggunakan waktu penelitian selama 3 bulan,mulai dari bulan Januari – Maret.
4. Lama Tindakan
Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan Januari, mulai dari siklus I, dan siklus II.

  1. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain :
1.Perencanaan
Meliputi penyampaian materi pelajaran, latihan soal, pembahasan latihan soal, mengadakan penelitian (kegiatan penelitian utama), ulangan harian.
2.Tindakan (action ), mencakup :
A). Siklus I , meliputi : pendahuluan, kegiatan pokok dan penutup.
b). Siklus II ( sama dengan siklus I )
3.Refleksi
Dimana perlu adanya pembahasan antara siklus-siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.
IX. JADWAL PENELITIAN
No
Kegiatan
Waktu Pelaksanaan


januari
febuari
maret


1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1.
Penyusunan Proposal





























2.
Koordinasi Perijinan




























3.
Perlakuan





























4.
Analisis





























5.
Penulisan laporan



























6.
Penyerahan Laporan
































X. BIAYA PENELITIAN
Akibat yang timbul dari penelitian ini menjadi tanggung jawab peneliti, adapun biaya tersebut adalah:
  1. Fotocopy naskah : Rp 100.000,00
  2. Kertas HVS : Rp 40.000,00
  3. Jilid buku : Rp 50.000,00
  4. Rental komputer : Rp 150.000,00
  5. Lain-lain : Rp 60.000,00

JUMLAH : Rp 350.000,00



XI. PERSONALIA PENELITI

Penelitian ini melibatkan Tim Peneliti, identitas dari Tim tersebut adalah :
Nama : NOVI PRIYANTI
Pekerjaan : Guru Wiyata Bakti SDN Kaliwedi – kebasen
Tugas dalam penelitian: Pengumpulan dan Analisis data
XII. DAFTAR PUSTAKA


kajian kritis kelas 1


KAJIAN KRITIS
Kajian Kritis terhadap : Buku Bahasa Indonesia I, bse, (Pusat Perbukuan Depdiknas)
Judul : Perlunya pengenalan abjad dan bunyi bahasa
Karangan : H. Suyatno, Ekarini Saraswati, T. Wibowo, Sawali, Sujimat

Oleh : Karsinah


PENDAHULUAN
Materi mendengarkan bunyi bahasa, dapat kita baca pada buku Bahasa Indonesia kelas I, bse, karangan H. Suyatno, Ekarini Saraswati, T. Wibowo, Sawali, Sujimat, penerbit Pusat Perbukuan, Depdiknas Tahun 2008. Penulis mengkritisi buku tersebut bertujuan agar diadakannya revisi bagi buku tersebut karena walaupun hanya masalah sepele namun akibatnya bisa fatal, karena hal tersebut dapat menyebabkan mis konsepsi atau salah dalam menanamkan konsep.
Pada buku tersebut (halaman 11) dimuat tentang mendengarkan bunyi bahasa, yang langsung membentuk suatu kata, contohnya
ini binu
i ni bi nu
ini binu

banu papa bima
ba nu pa pa bi ma
banu papa bima

Menurut penulis hal tersebut sangat berbahaya karena tidak semua orang dapat mengajar di kelas I, karena anak-anak kelas I masih sangat membutuhkan bimbingan dan tidak semua siswa kelas I sudah mengenal abjad dengan benar karena tidak semua siswa berasal dari TK. Guru yang masih baru bisa jadi mengalami kesulitan dalam mengajarkan bunyi bahasa. Tanpa di sertai macam-macam bunyi bahasa yang benar.


KRITIK

Menurut penulis sebaiknya siswa di ajarkan membaca huruf terlebih dahulu. Karena tidak semua anak dapat membaca hunuf dan mengetahui bentuk huruf dengan benar. Pada buku tersebut siswa di ajarkan menirukan bacaan dari guru dan di minta membaca sendiri, padahal masih banyak siswa yang belum mengenal huruf dan bunyi bahasa karena tidak semua anak berasal dari TK. Menurut penulis, sebaiknya dalam buku tersebut dikenalkan tentang macam-macam huruf dengan cara menjiplak yaitu, a b c d e f g h I j k l m n o p q r s t u v w x y z. Setelah itu di ajarkan bunyi bahasanya dan yang terakhir belajar membaca dengan cara mengeja. Alangkah baiknya jika prosesnya dilakukan secara runtut, dari pengenalan abjad, pengenalan bunyi bahasa dan belajar membaca dengan cara mengeja, sehingga buku tersebut akan lebih bermutu lagi.


RANGKUMAN

coba dengarkan guru membaca
lalu bacalah sendiri

ini binu
I ni bi nu
Ini binu

Ini nani
I ni na ni
Ini nani

banu papa bima
ba nu pa pa bi mi
banu papa bima

umi mama nani
u mi ma ma na ni
umi mama nani

Sebaiknya sebelum meminta siswa untuk membaca, kenalkan huruf dulu kepada siswa, yaitu;
a b c d e f g h I j k l m n o p q r s t u v w x y z
Siswa diminta menjiplak huruf tersebut, mendengarkan cara pengucapan huruf dan menirukan cara pengucapannya. Membedakan cara pengucapannya. Setelah itu baru belajar membaca dengan cara mengeja.


KESIMPULAN

Pada buku Bahasa Indonesia kelas I, bse, karangan H. Suyatno, Ekarini Saraswati, T. Wibowo, Sawali, Sujimat, penerbit Pusat Perbukuan, Depdiknas Tahun 2008, pada buku tersebut (halaman 11) dimuat tentang mendengarkan bunyi bahasa, yang langsung membentuk suatu kata, contohnya,
ini binu
I ni bi nu
Ini binu

Ini nani
I ni na ni
Ini nani

banu papa bima
ba nu pa pa bi mi
banu papa bima

umi mama nani
u mi ma ma na ni
umi mama nani
Menurut penulis hal tersebut sangat berbahaya karena tidak semua orang dapat mengajar di kelas I, karena anak-anak kelas I masih sangat membutuhkan bimbingan dan tidak semua siswa kelas I sudah mengenal abjad dengan benar karena tidak semua siswa berasal dari TK. Guru yang masih baru bisa jadi mengalami kesulitan dalam mengajarkan bunyi bahasa. Tanpa di sertai macam-macam bunyi bahasa yang benar. Menurut penulis, sebaiknya dalam buku tersebut dikenalkan tentang macam-macam huruf dengan cara menjiplak yaitu, a b c d e f g h I j k l m n o p q r s t u v w x y z. Setelah itu di ajarkan bunyi bahasanya dan yang terakhir belajar membaca dengan cara mengeja. Alangkah baiknya jika prosesnya dilakukan secara runtut, dari pengenalan abjad, pengenalan bunyi bahasa dan belajar membaca dengan cara mengeja, sehingga buku tersebut akan lebih bermutu lagi.




kajian kritis

KAJIAN KRITIS
Kajian Kritis terhadap : Buku IPA kelas III, bse, (Pusat Perbukuan Depdiknas)
Judul : Perlunya contoh dalam materi perubahan bentuk energi
Karangan : Priyono, Titik Sayekti.
Oleh : Novi Priyanti

PENDAHULUAN
Materi Energi dan Pengaruhnya dalam Kehidupan sehari-hari khususnya tentang Energi Tidak Dapat Dilihat Tetapi dapat Dirasakan. Materi dapat kit abaca pada buku IPA kelas III, bse, karangan Priyono, Titik Sayekti, penerbit Pusat Perbukuan Tahun 2008. Penulis mengkritisi buku tersebut bertujuan agar di adakannya revisi bagi buku tersebut supaya siswa lebih memahami tentang perubahan bentuk energi dengan memberikan contoh-contoh dari perubahan bentuk energi.
Pada buku tersebut (halaman 124) dimuat contoh perubahan bentuk energi yang antara lain : energi gerak dapat diubah menjadi energi listrik, energi matahari dapat diubah menjadi energi kimia, energi listrik dapat diubah menjadi energi cahaya, energi kimia dapat diubah menjadi energi gerak, dan sebagainya. Penulis merasa perubahan bentuk energy masih ada yang kurang dan juga tidak disertai contoh dan penjelasan yang cukup dari masing-masing perubahan bentuk energy tersebut.

KRITIK
Menurut penulis perlu ditambahkan beberapa contoh perubahan bentuk energy lagi, sekaligus diberikan contoh dari masing-masing perubahan bentuk energy tersebut. Misalnya : energi gerak dapat di ubah menjadi energy listrik misalnya perubahan energy yang terjadi pada kincir air, kincir angin, dinamo; energy matahari dapat di ubah menjadi energy kimia, misalnya proses pemasakan makanan pada tanaman; enrgi listrik dapat diubah menjadi energy cahaya, misalnya bola lampu yang dinyalakan; energy kimia dapat diubah menjadi energy gerak, misalnya mobil-mobilan yang dinyalakan dengan batu baterai, selain contoh perubahan energy tersebut masih ada perubahan energy yang lain, misalnya energy listrik dapat di ubah menjadi energy panas, misalnya perubahan energy yang terjadi pada setrika listrik; enrgi listrik dapat diubah menjadi energy gerak, misalnya kipas angin listrik yang di nyalakan; energy listrik dapat diubah menjadi enrgi suara, misalnya radio listrik yang dinyalakan; energy kimia dapat di ubah menjadi energy gerak, misalnya mobil atau motor yang dinyalakan; energy kimia dapat diubah menjadi energy suara, misalnya radio yang mengunakan batu baterai; energy kimia dapat diubah menjadi energy cahaya, misalnya senter yang menggunakan baterai, dan sebagainya. Menurut penulis penambahan materi tentang contoh perubahan bentuk energy beserta contoh-contoh perubahan tersebut sangat diperlukan sekali. Sehingga buku tersebut akan lebih bermutu lagi.

RANGKUMAN
Energi Tidak Dapat Dilihat Tetapi
Dapat Dirasakan
Dapatkah kamu melihat keberadaan energi?
Dapatkah kamu merasakan keberadaan energi?
Makhluk hidup tidak dapat melihat energi, tetapi
dapat merasakan keberadaan energi. Salah satu
buktinya, sehabis beristirahat dan makan, tubuhmu
yang semula letih dan lemah setelah beraktivitas
akhirnya dapat segar dan kuat kembali. Hal ini tentu
saja disebabkan oleh adanya energi baru yang berasal
dari makanan yang telah kamu makan tersebut.
Dapatkah kamu melihat energi baru yang timbul
di dalam tubuhmu itu? Tidak, bukan? Kamu hanya
dapat merasakan keberadaan energi baru tersebut
dari kondisi tubuhmu yang semula letih dan lemah
menjadi segar dan kuat kembali.
Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat
dimusnahkan. Namun, energi dapat diubah menjadi
bentuk-bentuk yang lain. Contoh perubahan
bentuk energi, antara lain:
1. energi gerak dapat diubah menjadi energi listrik,
2. energi matahari dapat diubah menjadi energi kimia,
3. energi listrik dapat diubah menjadi energi cahaya,
4. energi kimia dapat diubah menjadi energi gerak,
dan sebagainya.



KESIMPULAN

Pada buku IPA kelas III, bse, karangan Priyono, Titik Sayekti, Penerbit Pusat Perbukuan (halaman 124) dimuat contoh-contoh perubahan bentuk energy, yang antara lain: energi gerak dapat diubah menjadi energi listrik, energi matahari dapat diubah menjadi energi kimia, energi listrik dapat diubah menjadi energi cahaya, energi kimia dapat diubah menjadi energi gerak, dan sebagainya. Penulis merasa perubahan bentuk energy masih ada yang kurang dan juga tidak disertai contoh dan penjelasan yang cukup dari masing-masing perubahan bentuk energy tersebut.
Menurut penulis perlu ditambahkan beberapa contoh perubahan bentuk energy lagi, sekaligus diberikan contoh dari masing-masing perubahan bentuk energy tersebut. Misalnya : energi gerak dapat di ubah menjadi energy listrik misalnya perubahan energy yang terjadi pada kincir air, kincir angin, dinamo; energy matahari dapat di ubah menjadi energy kimia, misalnya proses pemasakan makanan pada tanaman; enrgi listrik dapat diubah menjadi energy cahaya, misalnya bola lampu yang dinyalakan; energy kimia dapat diubah menjadi energy gerak, misalnya mobil-mobilan yang dinyalakan dengan batu baterai, selain contoh perubahan energy tersebut masih ada perubahan energy yang lain, misalnya energy listrik dapat di ubah menjadi energy panas, misalnya perubahan energy yang terjadi pada setrika listrik; enrgi listrik dapat diubah menjadi energy gerak, misalnya kipas angin listrik yang di nyalakan; energy listrik dapat diubah menjadi enrgi suara, misalnya radio listrik yang dinyalakan; energy kimia dapat di ubah menjadi energy gerak, misalnya mobil atau motor yang dinyalakan; energy kimia dapat diubah menjadi energy suara, misalnya radio yang mengunakan batu baterai; energy kimia dapat diubah menjadi energy cahaya, misalnya senter yang menggunakan baterai, dan sebagainya. Menurut penulis penambahan materi tentang contoh perubahan bentuk energy beserta contoh-contoh perubahan tersebut sangat diperlukan sekali. Sehingga buku tersebut akan lebih bermutu lagi.





Case Study kelas 3


Anaku Adalah Muridku
Oleh
Novi Priyanti

Anaku dalam konteks judul di atas adalah siswa Sekolah Dasar. Saya akan mengajar IPA di Sekolah Dasar. Sesuai dengan tuntutan usi silabus, materi pokok pembelajarannya adalah Makhluk Hidup. Saya akan melaksanakan pembelajaran tentang Penggolongan Tumbuhan di Sekolah dasar.
Saya memeng seorang guru. Namun, profesi ini baru beberapa tahun saya jalani. Tetepi saya juga seorang mahasiswi di Universitas Terbuka. Ini adalah pengalaman pertama saya dalam mengajar. Saya membayangkan akan berhadapan dengan anak-anak yang masih sangat lugu, masih banyak membutuhkan bimbingan dan arahan. Pengetahuan yang akan kita berikan kepada mereka adalah sesuatu yang sangat besar yang akan menjadi bekal bagi mereka dalam mengikuti jenjang pendidikan berikutnya. Saya juga yakin bahwa kekeliruan yang akan dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran di tingkat dasar ini akan memberikan dampak yang kurang baikbagi anak intuk jangka waktu yang sangat lama. Inilah dasar pemikiran saya bahwa pembelajaran di Sekolah Dasar bukanlah sesuatu yang dapat dianggap mudah.
Selasa, 24 agustus 2010 pukul 07.00 saya melaksanakan pembalajaran di kelas III SD Negeri Kaliwedi, Kebasen. Sesuai dengan isi silabus semester 1 saya mengajar tentang Makhluk Hidup., dengan Standar Kompetensi : Memahami Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup serta Hal-hal yang Mempengaruhi Perubahan pada Makhluk Hidup. Kompetensi Dasar : Menggolongkan Makhluk Hidup secara Sedarhana. Sebelum pembelajaran dimulai, saya menyiapka RPP, alat peraga dan media pembelajaran.
Awal saya berdiri di depan kelas, saya m,elihat wajah anak-anak yang polos menantikan sepatah kata pembuka dari saya. “assalamu’alaikum wr wb” itulah kata pertama yang saya ucapakan. Dimulai dengan berdoa bersama, kemudian saya mengabsen siswa satu persatu agar terlihat akrab dengan anak-anak dan terjalin rasa kekeluargaaan. “anak-anak bagaimana kabarnya hari ini? Tanyaku, “baik bu” jawab mereka. “Anak-anak hari ini kita akan brlajar tentang penggolongan makhluk hidup terutama tumbuhan. Siapa yang tau tentang oerbedaan daun papaya dan daun jambu?” hampir serempak mereka menjawab “ daun pepeya sep[erti jari, sedangkan daun jambu tidak”.
Pertama-tama saya menjelaskan materi pelajan tentang penggolongan tumbuhan berdasarkan tulang daunnya, setelah dirasa cukup kemudian saya membagi siswa menjadi lima kelompok, setiap kelompok terdiri dari 6 anak.
Pembelajaran berlanjut. Setiap kelompok saya minta menyebutkan jenis tulang daun yang saya bagikan kepada mereka, dan menyebutkan beberapa tumbuhan yang mempunyai tulang daun tersebut. Semua anak tanpak bersemangat bekerja. Namun, pada saat presentasi tugas kelompok, saya mengalami kesulitan, yaitu tidak satupun kelompok bersedia tampil memaparkan tugas yang sudahmereka selesaikan. Saya merasa mereka malu. Dengan gaya bahasa tertentu, saya membujuk mereka. Setelah dibujuk-bujuk, kelompok 1 tampil menempelkan hasil kerja kelompok di papan tulis dan memaparkannya atau lebih tepat membacanya. Saya berharap akan ada tanggapan dari kelompok lain (sebagaimana sekenario pembelajaran yang sudah sya rancang sebelumnya). Setelah selesai membacakan hasil kerja kelompok, penghargaan yang di berikan adalah tepuk tangan dan saya merasa semua anak antusias bertepuk tangan. Tetapi, saya merasa bahwa tidak semua anak berpartisipasi penuh dalam pembelajaran. Beberapa anak terlihat wajahnya tanpak ekspresi dan saya merasa ad “ketidaknyamanan” da;lam batin saya. Saya menginkan semua anak terlihat penuh dalam konteks pembelajaran.
Meskipun saya merasa tujuan pembalajaran atau target pembelajaran pagi itu 90% tercapai, masih ada ganjalan di benak saya ketika pembelajaran berakhir. Ganjalan itu adalah (1) bagaimanakah seharusnya kita mengajar? (2) apakah semua anak menikmati pembelajaran ini? Namun, saya mewngakhiri pembelajaran ini dengan penuh senyum, sebuah senyum bahagia menjadi geru di Sekolah Dasar.
Di penghujung pembelajaran, sebagai refleksi saya ajukan pertanyaan “ bagaiman anak-anak, apakah pembelajaran hari ini menyenangkan??” “menyenangkan bu”. Semoga hari-hariku bersama anak-anaku akan selalu menyenangkan.

PTK Matematika kelas 3


LAPORAN HASIL PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI BANGUN DATAR DENGAN METODE STAD BAGI SISWA KELAS III SDN KALIWEDI
KECAMATAN KEBASEN


Laporan Ini Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pemantapan Kemampuan Profesional (PDGK 4501)
Program S1 PGSD FKIP Universitas Tebuka


Oleh :
NOVI PRIYANTI
NIM 818760671


UNIVERSITAS TERBUKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH PURWOKERTO
2012





BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Nasional telah berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dasar. Dengan berbagai cara yang dilakukan baik merubah kurikulum sampai adanya pendidikan dan pelatihan bagi guru.
Sumber Daya Manusia (SDM) terdiri dari dua aspek yaitu aspek 1 mutunya dan 2 aspek jumlah penduduknya. Makin besar jumlahnya makin besar kemampuannya untuk membangun suatu lingkungan, lebih – lebih bila diorganisasikan dengan baik. Mutu manusia atau penduduk sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang membina dan mengembangkannya. Pendidikan, pelatihan, penataran sangat berperan dalam usaha mempertinggi mutu (kualitas) manusia.
Usaha kongkrit yang dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan, ketrampilan profesional, dan kemampuan guru dalam pembelajaran dapat melalui pendidikan formal maupun non formal, seperti: Kelompok Kerja Guru (KKG), workshop, penataran, diklat, dan seminar. Proses belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh profesionalitas seorang guru, fasilitas pembelajaran, dan motivasi siswa cukup tinggi, dapat diharapkan mutu kegiatan pembelajaran baik dan berdampak positif terhadap hasil belajar siswa. Keberhasilan proses pembelajaran dapat diukur dari kegiatan belajar mengajar yang dapat membangkitkan minat belajar siswa. Guru dengan segala cara berusaha untuk menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran, seperti tersedianya media pembelajaran yang memadai sehingga dapat memberikan peluang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan bakat, minat, serta tujuan pembelajaran.
Proses pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar peneliti bertugas masih menggunakan pola tradisional, dimana guru lebih dominan dalam setiap pembelajaran. Metode yang digunakan kurang bervariasai dan masih didominasi dengan metode ceramah. Sementara peserta didik masih dijejali ilmu yang bersifat teori, kurang memperhatikan pengalaman belajar, akibatnya siswa pasif dan hasil belajar siswa masih rendah.
Pada studi awal yang dilakukan untuk mata pelajaran Matematika, berdasarkan hasil pengamatan motivasi siswa tergolong masih rendah. Berikut peneliti tampilkan hasil pengamatan untuk keaktifan siswa.
Tabel 1.1
Hasil Pengamatan Motivasi Studi Awal Pembelajaran Matematika
NO
Aspek Pengamatan Keaktifan
Banyaknya Siswa
Prosentase
1
Aktif bertanya
3
9,37%
2
Aktif menanggapi jawaban guru atau teman
3
9,37 %
3
Aktif menjawab pertanyaan guru
6
18,75%
4
Aktif dalam berdiskusi
9
28,12%
5
Aktif membantu kesulitan teman
4
12,5%
Rata-rata Keaktifan Siswa
15,62%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata keaktifan siswa hanya mencapai 13,74 %. Hal itu masih dikatakan rendah karena yang diharapkan oleh peneliti rata-rata keaktifan siswa mencapai 80%.
Sedangkan hasil ulangan pada Kompetensi Dasar (KD) Mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsur tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan. Berikut peneliti sajikan hasil ulangan Kompetensi Dasar yang dimaksud.
Tabel 1.2
Nilai Hasil Ulangan Studi Awal Matematika kelas III
No
Nama Siswa
Pra
Siklus


N
T/BT
1
Maruf Abdillah
40
BT
2
Rijal Nur kholis
40
BT
3
Luki Adi Triyatno
60
BT
4
Elvan Tri Saban P
40
BT
5
Karlinda
40
BT
6
Windi Astuti
60
BT
7
Yugo Wirawan
60
BT
8
Zahra Nuraeni
50
BT
9
Achmad Syamsul M
50
BT
10
Alif Akmalul Bazor
50
BT
11
Anisa Musaidatul
70
T
12
Anisatul Isriyah
40
BT
13
Azzah Khoirunnisa
60
BT
14
Bela Safitri Meilia
80
T
15
Bisma Anjala Sutra
80
T
16
Dewi Farkhatul
60
BT
17
Dinni Miftakhul Kh
60
BT
18
Dwi Cahyani
70
T
19
Fahmi Azizul Hakim
50
BT
20
Faiz Septo Aji
60
BT
21
Faridatul Hikmah
80
T
22
Figit Rizzah Gunawan
60
BT
23
Ibnu Ramadhan
60
BT
24
Lely Mawar Yuanda
60
BT
25
Rima Rizqia Oktaviani
80
T
26
Rizki Nur Afnan
80
T
27
Siti Nur Khoeriyyah
80
T
28
Tri Oktaviana Toyibah
70
T
29
Tri Mugo Laksono
80
T
30
Yuliana Puspita Dewi
60
BT
31
Devia Alviani Putri
50
BT
32
Muhammad Fiqih F
60
BT
Jumlah
1940

Rata-rata
60,62

Jumlah siswa tuntas

10
Jumlah siswa belum tuntas

22
KKM
61

Prosentase ketuntasan
31,2%


Berdasarkan tabel di atas, dari 32 siswa, 22 siswa mendapat nilai di bawah KKM, sementara hanya 10 siswa yang mencapai KKM. Hal ini menunjukkan 68,75 % dari jumlah siswa belum tuntas dalam pembelajaran tersebut. Sedangkan nilai rata-ratanya hanya 60,62.
Upaya sudah dilakukan untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran, tetapi hasilnya belum memuaskan. Evaluasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana materi dapat dikuasai oleh peserta didik dan hasilnya dijadikan sebagai umpan balik dalam proses pembelajaran. Hasil tes menunjukkan masih rendahnya pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Dari 32 siswa hanya 10 siswa yang mendapat nilai 61 ke atas, sedangkan 22 siswa yang mendapat nilai dibawah 60. Kalau hal ini dibiarkan akan berdampak negatif terhadap proses pembelajaran selanjutnya.
Identifikasi masalah
Berdasarkan kasus di atas penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
Tingkat penguasaan materi siswa rendah.
Semangat belajar siswa rendah.
Sarana kurang memadai
Meninjau hasil ulangan yang lalu yang masih rendah
Analisis masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka peneliti dapat menganalisis faktor penghambat keberhasilan pembelajaran dengan analisis masalah sebagai berikut :
Belum adanya alat peraga
Penulis lebih mendominasi menggunakan metode ceramah.
Belum tercipta suasana interaktif antara guru dan siswa.
Pertanyaan belum dirumuskan dengan jelas, masih sulit untuk dipahami
Dengan adanya masalah tersebut di atas, maka peneliti mengadakan perbaikan pembelajaran melalui metode STAD.
Rumusan Masalah
Berdasarkan pada analisis masalah di atas maka masalah faktor perubahan keberhasilan pembelajaran difokuskan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sehingga rumusan masalahnya dapat disusun sebagai berikut :
Apakah metode STAD dalam pembelajaran matematika tentang bangun datar siswa kelas III SD Negeri Kaliwedi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa ?
Bagaimanakah peningkatan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika tentang bangun datar siswa kelas III SD Negeri Kaliwedi melalui model pembelajaran STAD ?
Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Meningkatkan pemahaman konsep matematika dengan menggunakan metode STAD.
Perbaikan kinerja guru agar lebih profesional.
Mendeskripsikan proses pembelajaran bahwa dengan metode STAD menyenangkan.
Mendeskripsikan efektivitas pembelajaran dengan metode STAD
2. Tujuan Khusus
Menganalisis dampak penggunan model pembelajaran STAD dalam pembelajaran matematika tentang bangun datar siswa kelas III SD Negeri Kaliwedi terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran STAD dalam pembelajaran matematika tentang bangun datar siswa kelas III SD Negeri Kaliwedi terhadap peningkatan motovasi belajar siswa.
Mengetahui respon siswa terhadap metode diskusi dalam pembelajaran
Memenuhi tugas dalam materi kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional ( PDGK 4501 ) pada program S1 PGSD.
Manfaat Penelitian
Manfaat hasil penelitian pembelajaran melalui PTK antara lain :
Bagi Guru :
Membantu guru memperbaiki pembelajaran
Membantu guru berkembang secara professional
Guru menjadi mengerti beberapa model dan metode pembelajaran
Meningkatkan rasa percaya diri
Guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan guru.
Bagi Siswa :
Siswa memiliki pengalaman langsung.
Meningkatkan hasil belajar.
Kritis terhadap hasil belajarnya.
Peserta didik dapat mengikuti pembelajaran yang menarik.
Bagi sekolah :
Dengan dukungan kreatifitas guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran maka mutu pembelajaran di sekolah dapat ditingkatkan.
Adanya perkembangan diri guru.
Memiliki guru yang profesional dalam mengelola pembelajaran di depan kelas.
Sekolah dapat berkembang sesuai dengan tuntutan zaman.
Meningkatkan prestasi sekolah
Meningkatkan mutu pendidikan