Senin, 09 Juli 2012

Case Study kelas 3


Anaku Adalah Muridku
Oleh
Novi Priyanti

Anaku dalam konteks judul di atas adalah siswa Sekolah Dasar. Saya akan mengajar IPA di Sekolah Dasar. Sesuai dengan tuntutan usi silabus, materi pokok pembelajarannya adalah Makhluk Hidup. Saya akan melaksanakan pembelajaran tentang Penggolongan Tumbuhan di Sekolah dasar.
Saya memeng seorang guru. Namun, profesi ini baru beberapa tahun saya jalani. Tetepi saya juga seorang mahasiswi di Universitas Terbuka. Ini adalah pengalaman pertama saya dalam mengajar. Saya membayangkan akan berhadapan dengan anak-anak yang masih sangat lugu, masih banyak membutuhkan bimbingan dan arahan. Pengetahuan yang akan kita berikan kepada mereka adalah sesuatu yang sangat besar yang akan menjadi bekal bagi mereka dalam mengikuti jenjang pendidikan berikutnya. Saya juga yakin bahwa kekeliruan yang akan dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran di tingkat dasar ini akan memberikan dampak yang kurang baikbagi anak intuk jangka waktu yang sangat lama. Inilah dasar pemikiran saya bahwa pembelajaran di Sekolah Dasar bukanlah sesuatu yang dapat dianggap mudah.
Selasa, 24 agustus 2010 pukul 07.00 saya melaksanakan pembalajaran di kelas III SD Negeri Kaliwedi, Kebasen. Sesuai dengan isi silabus semester 1 saya mengajar tentang Makhluk Hidup., dengan Standar Kompetensi : Memahami Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup serta Hal-hal yang Mempengaruhi Perubahan pada Makhluk Hidup. Kompetensi Dasar : Menggolongkan Makhluk Hidup secara Sedarhana. Sebelum pembelajaran dimulai, saya menyiapka RPP, alat peraga dan media pembelajaran.
Awal saya berdiri di depan kelas, saya m,elihat wajah anak-anak yang polos menantikan sepatah kata pembuka dari saya. “assalamu’alaikum wr wb” itulah kata pertama yang saya ucapakan. Dimulai dengan berdoa bersama, kemudian saya mengabsen siswa satu persatu agar terlihat akrab dengan anak-anak dan terjalin rasa kekeluargaaan. “anak-anak bagaimana kabarnya hari ini? Tanyaku, “baik bu” jawab mereka. “Anak-anak hari ini kita akan brlajar tentang penggolongan makhluk hidup terutama tumbuhan. Siapa yang tau tentang oerbedaan daun papaya dan daun jambu?” hampir serempak mereka menjawab “ daun pepeya sep[erti jari, sedangkan daun jambu tidak”.
Pertama-tama saya menjelaskan materi pelajan tentang penggolongan tumbuhan berdasarkan tulang daunnya, setelah dirasa cukup kemudian saya membagi siswa menjadi lima kelompok, setiap kelompok terdiri dari 6 anak.
Pembelajaran berlanjut. Setiap kelompok saya minta menyebutkan jenis tulang daun yang saya bagikan kepada mereka, dan menyebutkan beberapa tumbuhan yang mempunyai tulang daun tersebut. Semua anak tanpak bersemangat bekerja. Namun, pada saat presentasi tugas kelompok, saya mengalami kesulitan, yaitu tidak satupun kelompok bersedia tampil memaparkan tugas yang sudahmereka selesaikan. Saya merasa mereka malu. Dengan gaya bahasa tertentu, saya membujuk mereka. Setelah dibujuk-bujuk, kelompok 1 tampil menempelkan hasil kerja kelompok di papan tulis dan memaparkannya atau lebih tepat membacanya. Saya berharap akan ada tanggapan dari kelompok lain (sebagaimana sekenario pembelajaran yang sudah sya rancang sebelumnya). Setelah selesai membacakan hasil kerja kelompok, penghargaan yang di berikan adalah tepuk tangan dan saya merasa semua anak antusias bertepuk tangan. Tetapi, saya merasa bahwa tidak semua anak berpartisipasi penuh dalam pembelajaran. Beberapa anak terlihat wajahnya tanpak ekspresi dan saya merasa ad “ketidaknyamanan” da;lam batin saya. Saya menginkan semua anak terlihat penuh dalam konteks pembelajaran.
Meskipun saya merasa tujuan pembalajaran atau target pembelajaran pagi itu 90% tercapai, masih ada ganjalan di benak saya ketika pembelajaran berakhir. Ganjalan itu adalah (1) bagaimanakah seharusnya kita mengajar? (2) apakah semua anak menikmati pembelajaran ini? Namun, saya mewngakhiri pembelajaran ini dengan penuh senyum, sebuah senyum bahagia menjadi geru di Sekolah Dasar.
Di penghujung pembelajaran, sebagai refleksi saya ajukan pertanyaan “ bagaiman anak-anak, apakah pembelajaran hari ini menyenangkan??” “menyenangkan bu”. Semoga hari-hariku bersama anak-anaku akan selalu menyenangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar